Cerpen

Waktu Singkat Bersama

Sahabatku

       3 tahun yang lalu aku baru mengenalnya. Saat dimana pertama kali aku mengetahuin namanya adalah Putri, Putri Larasati. Saat itu dia berusia 18 tahun, hanya berbeda 1 tahun denganku. Diawal perkenalan kami, kami masih sangat malu-malu. Sampai pada bulan ke-2 setelah perkenalan kami, kami semakin akrab. Setiap hari kami selalu meluangkan banyak waktu untuk bermain bersama. Sekedar melepaskan rindu kami.

Pada waktu itu sekitar pertengahan bulan Juli, kami merencanakan untuk pergi bersama. Kami berencana berlibur. Sampai tepat pada tanggal yang kami tentukan, Aku merasakan ada yang mengganjal pada putri. Karena sudah hampir 2 jam aku menunggu, putri belum juga datang.

Karena merasa sudah sangat kesal, aku pun menelpon putri tapi tidak satu pun panggilan dari ku putri jawab. Aku pun pergi untuk mendatangi rumahnya, tapi apa yang ku dapat? Aku hanya mendapati rumahnya yang kosong. Aku menangis sambil menunngu ada seseorang yang dapat memberitahuku dimana sahabatku putri.

Malam pun tiba, aku tertidur pulas diteras rumahnya. Aku pun tidak sadar, sampai pada akhirnya seorang ibu-ibu tetangga sebelah rumah putri membangunkan aku dan bertanya kepada ku.

“Apa yang sedang kau tunggu nak?” ibu itu berujar.

Aku pun menjawab, “ aku sedang menunggu putri, dia tinggal disini bersama ibunya. Apakah ibu tau dia kemana?”

“gadis cantik yang sedang kamu tunggu, sedang tidak ada dirumah semenjak subuh tadi. Dia pergi bersama ibunya.” Jawab ibu tersebut.

“kemana bu?” aku bertanya

Ibu itu tak menjawab, bahkan dia terlihat menangis dan beranjak pergi. Aku merasa ada yang disembunyikan. Aku berusaha mengejarnya, berusaha mendapatkan informasi yang bisa membuat ku sedikit mengerti.

“ibuu” aku berteriak sambil mengejarnya

Ibu itu menoleh dan berkata, “apabila kau ingin bertemunya, pergilah kesebuah rumah sakit besar yang ada di Jakarta” ucap ibu itu.

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari untuk mencari kendaran yang bisa membawa ku kesana. Kebetulan malam itu tapat pukul 11 malam, tentu saja sangat jarang kendaraan yang lewat. Aku berjalan, berlari sembari menunggu kendaraan yang mungkin lewat. Sekitar 100 Meter ku berjalan, akhirnya aku bisa menemukan taksi terakhir pada malam itu. Aku pun segera naik dan bergegas mencari rumah sakit tersebut.

Hampir 1 jam berkeliling jakarta, akhirnya aku sampai di sebuah rumah sakit besar bernama RS. Kasih Hati. Tepat disana menunjukan pukul 00.30 pagi. Aku bertanya pada bagian informasi dimana kamar putri, dan suster menjawab dia berada di ruang ICU, aku berlari menaiki tangga. Sampai aku pada depan pintu ruangan tersebut, aku membuka pintu berharap dia baik-baik saja. Pintu berhasil ku buka, dan aku menangis.

Berjalan perlahan mendekati putri yang ditemani mamanya. Mamanya yang menangis sambil memegangi tangan putri yang tertidur pulas diatas ranjang itu. Semakin dekat, dan aku baru sadar putri tidak tidur, dia koma.

Dia sakit, sakit yang semakin hari menggerogoti tubuhnya. Sakit yang membuat dia lelah, sakit yang membuat dia menangis. Ya dia didiagnosa menginap kangker, leukimia tahap akhir. Rambut rontok, darah yang selalu keluar disetiap malam, rasa sakit yang sangat menyiksa.

Dia tidak pernah menunjukannya pada ku. Berkata bahwa dia lelah menghadapinya pun tak pernah. Terlihat sempurna ketika dia berusaha menyembunyikannya. Sesuatu yang tidak pernah terbanyakan oleh ku. Sejak saat itu aku berusaha keras menemani dia dirumah sakit.

Setiap hari aku membersihkan tubuhnya, mengusapnya dengan handuk dan air hangat, menggantikan bajunya, membacakan banyak cerita lucu saat menurutku dia sedang tertidur, mangajaknya berbicara, merencanakan berbagai hal yang harus kami lakukan nanti, menceritakan keinginan kami disaat besar nanti, setiap hari aku juga membawakanya banyak bunga kesukaaannya, makanan kesukaannya, boneka, baju-baju yang baru ku beli untuknya. Semuanya ku lakukan, sampai 13 bulan kemudian.

Hari yang dinanti tiba, dia sadar. Aku berteriak memeluknya sambil tersenyum bahagia, dokter bilang dia sudah melewati masa komanya. Itu hal yang membuat ku semangat. Selesainya putri dari koma, setiap hari kami selalu sempatkan untuk jalan-jalan. Tugasku setiap pagi mendorong kursi roda putri menuju taman. Melihat bunga-bunga, air mancur, kupu-kupu dan burung yang setiap hari datang mengunjungi taman.

15 hari setelah terbangun dari komanya, muncul darah kental berwarna hitam dari hidungnya. Aku berteriak memanggil dokter dan menelpon mama putri. Aku menangis, dokter datang, segera memeriksa. Keadaan putri kritis, dan koma. Saat dimana aku hanya bisa menemaninya tanpa melihat senyumnya.

Menunggu, menunggu, menunggu, hanya itu yang bisa ku lakukan. Berdoa berharap matanya terbuka, memanggilku, lalu tersenyum. 3 hari putri kembali tertidur pulas, tepat pukul 15.02 bunyi pendeteksi jantung berubah. Saat dimana aku tahu bahwa sebenernya perjuangan putri akan selesai.

Aku terdiam, menangis memeluk mama putri. Dokter mengatakan bahwa dia sudah pergi, perjuangannya berakhir. Aku menghampirinya, memeluknya sambil menangis. Mencium keningnya. Aku berbisik ditelinganya,

“terima kasih sahabat terbaiku, kau sempurna bagi ku atas semua kekuranganku” ucap ku.

Lalu putri meneteskan air matanya, yang aku tau bahwa dia mendengarnya dan menangis bahagia untuk ku.

Terima Kasih Sahabat ku tercinta Almh. Putri Larasati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s